“Seharian ini Azlia rewel, badannya panas, dan tidak mau makan”, begitu laporan mbahnya Azlia. Waduh, kenapa ya permata hatiku ini?. Badannya hangat, matanya sayu, tidak tampak keceriaan seperti biasanya.

“Nanti kita ke dokter ya Nak!” tawarku pada Azlia. Dia pun mengangguk.

Setelah shalat magrib, kita berangkat ke dokter. Ternyata dokternya sudah hafal dengan kebiasaan Azlia. Baru sampai sudah digoda sama dokternya, “Mau vitamin?”. Ya, Azlia menyebut obat maupun vitamin sebagai vitamin dan untuk merayu dia supaya mau minum obat pun harus menyebutkan minum vitamin.

“Ini suhunya memang naik, dan detak jantungnya agak cepat, jika besok masih demam sebaiknya periksa darah”, begitu kata dokternya. Wah, harus periksa darah segala.

Aku sudah siap-siap tenaga untuk nanti malam, biasanya kalau demam, Azlia akan rewel dan susah tidur. Ternyata tidak kali ini, dia tidur dengan mudah dan tidak rewel. Jam 12 malam kuperiksa keadaannya. Ya Allah, panasnya cukup tinggi! Tapi dia sama sekali tidak rewel. Hatiku pun jadi gelisah, bagaimana ini? Kasihan Azlia dan akhirnya aku pun menitikkan air mataku.

Keesokannya aku hanya masuk kerja setengah hari karena akan memeriksakan darah Azlia ke Laboratorium Medis. Untuk mengurangi rasa sakitnya sewaktu darahnya diambil, Azlia kualihkan perhatiannya dengan mengajaknya ngobrol. Dan taktik ini berhasil, dia hanya menangis sebentar bukan karena sakit, tapi karena bingung dikerumuni 2 orang perawat.

Hasil periksa laboratorium tidak bisa segera diketahui hasilnya karena dokternya hari sabtu ini tutup. Aku mencoba bertanya ke sahabatku yang seorang perawat (Lina). Menurutnya, kemungkinan Azlia terserang cacar. Aduh, Azlia terserang cacar lagi! Padahal menurut orang awam, kalau sudah terkena cacar sudah kebal, tidak akan terserang lagi.

Hasil periksa darah Azlia kuserahkan ke dokter. Dokter memeriksa kembali kondisinya dan memberikan tambahan obat. Hasilnya sama seperti yang dikatakan Lina, Azlia terkena cacar. Ketika akan membayar biaya pemeriksaan, dokternya menolak dan berkata “Tidak usah, sudah termasuk yang kemarin saja”. Dokter yang sangat baik.

Azlia masih saja susah makannya. Setelah kuperiksa ternyata dia sariawan. Mungkin harus mengobati sariawannya baru dia mau makan. Setelah bertanya kepada seorang sahabatku (Sari) yang seorang apoteker, Azlia kuolesi cream kenalog. Pertama kali diolesi dia menolak, setelah dirayu-rayu akhirnya mau juga diolesi. Alhamdulillah pagi ini Azlia sudah mau makan, sarapannya bubur sumsum.

Cepat sembuh ya permata hatiku. Kalau sudah sembuh nanti kita jalan-jalan.